Dari dalam negeri, perubahan biaya
hidup, inflasi, dan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan sentimen konsumen.
“Selain itu, Indonesia masih harus menghadapi tantangan global mulai dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat hingga gangguan di Timur Tengah. Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk harga energi dan komoditas, perang dagang dan cuaca, kenaikan utang pemerintah, dan situasi di selat Hormuz. Di tengah tantangan tersebut, perkembangan artificial intelligence (AI) menjadi faktor penggerak pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu Dekan dan CEO ADBI Bambang Brodjonegoro menyoroti proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global yang masih tidak merata pada 2027. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan PDB dunia pada tahun 2027 sebesar 3,40 persen, lebih tinggi daripada proyeksi pertumbuhan tahun 2026 yang sebesar 3,10 persen.
Di ASEAN, Indonesia dan Filipina diproyeksikan mengalami pertumbuhan PDB tertinggi kedua sebesar 5,10 persen pada tahun 2027, hanya satu level di bawah Vietnam.
“Namun demikian, proyeksi PDB yang tinggi belum menjamin imbal hasil. Faktor-faktor yang dapat menarik investasi antara lain permintaan pasar dan kedalaman pemasok, listrik dan logistik yang andal, kepastian izin,
dan keterampilan tenaga kerja,” ujar Bambang.
(kunthi fahmar sandy)