BBCA juga dinilai lebih diuntungkan dari kenaikan imbal hasil penempatan jangka pendek karena memiliki kelebihan likuiditas yang lebih besar.
“Meskipun demikian, kami mempertahankan pandangan selektif terhadap bank BUMN, dengan BBCA dan BRIS sebagai pilihan utama,” tulis Nurkholis.
Sebagai BUS, BRIS bahkan berpotensi mencapai GWM efektif serendah 0,5 persen apabila memperoleh KLM secara penuh.
Menurut Mirae, pelaku pasar perlu mencermati kriteria PPU yang akan ditetapkan BI serta pengungkapan GWM bank pada November dan Desember 2026.
Risiko terhadap pandangan tersebut antara lain kriteria PPU yang tetap sulit dipenuhi BBCA, komposisi KLM bank yang berbeda dari asumsi, serta tekanan terhadap rupiah yang dapat mendorong BI kembali mengetatkan likuiditas. (Aldo Fernando)