Dari sisi operasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usaha BYAN pada 23 September 2026. Persetujuan tersebut menambah kuota produksi sekitar 15-20 juta ton.
Sehari setelah persetujuan RKAB, status force majeure BYAN juga dicabut. Namun, ESDM menegaskan persetujuan RKAB tersebut tidak berkaitan dengan perubahan kepemilikan saham BYAN.
Sementara itu, angka transaksi BYAN yang beredar di publik hingga kini masih berupa laporan yang belum terkonfirmasi.
Sekitar 10 September 2026, muncul laporan mengenai nilai sekitar USD3 miliar untuk pembelian 62,2 persen saham BYAN.
Angka tersebut muncul sebelum perjanjian pembelian 30 persen saham ditandatangani, sementara BYAN menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran tersebut.