Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan, kinerja industri hulu migas nasional memiliki peran strategis dalam mengatasi defisit perdagangan migas.
Tanpa peningkatan produksi, impor minyak akan terus bertambah seiring kebutuhan pasokan minyak yang diproyeksikan mencapai 1,94–2,04 juta BOPD pada 2030, menurut data dari Dewan Energi Nasional (DEN) tahun 2026.
Berdasarkan studi ReforMiner (2026), setiap penurunan produksi minyak sebesar 100 ribu BOPD akan menambah impor sekitar USD2,6 miliar per tahun. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa sektor hulu migas nasional masih memiliki modal untuk mendukung upaya peningkatan produksi.
SKK Migas mencatat, selama lima tahun terakhir investasi hulu migas meningkat 41,6 persen, dari USD10,89 miliar pada 2021 menjadi USD15,42 miliar pada 2025.
Pada 2025, lifting minyak tercatat sebesar 605,3 ribu BOPD atau 100,05 persen dari target APBN. Prospek hulu migas juga diperkuat oleh hasil eksplorasi 2020–2026, yang mencatat 122 temuan dari 197 sumur yang dievaluasi dengan rasio keberhasilan 61 persen, di atas rata-rata global 45–50 persen.