"Pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini bergerak melalui tiga tahapan strategis. Selama ini, kita telah membangun fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian. Saat ini, prioritas kita memasuki Tahap Dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya,” ujar Heldy dalam keterangan resmi, Rabu (30/9/2026).
Pergeseran fokus strategis ini berlangsung seiring melesatnya akumulasi modal di sektor hilir. Pada semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi tercatat menembus Rp300,1 triliun, atau menyumbang 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional sekaligus tumbuh 6,9 persen dibandingkan capaian periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total modal yang terealisasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) masih mendominasi dengan kontribusi mencapai Rp212,8 triliun atau 70,9 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) membukukan porsi Rp87,3 triliun atau 29,1 persen.
Kinerja investasi tersebut memperlihatkan kemajuan signifikan yang dicapai Indonesia dalam menumbuhkan industri hilirnya, sekaligus membuka peluang lebar untuk mengokohkan posisi tawar di dalam rantai nilai mineral kritis dunia.