sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Managing Director MSCI Ungkap Alasan Pasar Saham RI Terancam Turun ke Standalone Market

Market news editor Iqbal Dwi Purnama
23/10/2026 17:43 WIB
MSCI mengungkapkan sejumlah persoalan yang melatarbelakangi usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Managing Director MSCI Ungkap Alasan Pasar Saham RI Terancam Turun ke Standalone Market (Foto: dok Stutterstock)
Managing Director MSCI Ungkap Alasan Pasar Saham RI Terancam Turun ke Standalone Market (Foto: dok Stutterstock)

IDXChannel - Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengungkapkan sejumlah persoalan yang melatarbelakangi usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market. 

Managing Director MSCI Raman Aylur Subramanian mengatakan, persoalan yang dihadapi Indonesia bukan sekadar menyangkut indeks saham, melainkan tata kelola pasar secara keseluruhan yakni transparansi kepemilikan saham, dugaan manipulasi perdagangan, hingga lemahnya penegakan hukum di pasar modal.

Dalam pertemuan dengan para investor yang diselenggarakan UBS Group AG pada Selasa (20/10/2026), Subramanian menyampaikan bahwa penilaian MSCI didasarkan pada masukan pelaku pasar serta kerangka evaluasi yang objektif.

"Di tengah upaya Indonesia berpacu dengan waktu untuk menghindari pukulan ganda terhadap statusnya, negara ini perlu meyakinkan MSCI dan para investor global bahwa mereka mampu meregulasi pasar saham secara efektif," ujar Subramanian dikutip Bloomberg, Jumat (23/10/2026).

Managing Partner Carthage Capital Stephen Wu menambahkan, permasalahan yang disorot MSCI mencakup struktur kepemilikan saham yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan pada sejumlah emiten, serta dugaan transaksi yang berpotensi mendistorsi pembentukan harga saham.

"Masalahnya bukan terletak pada aturan, yang sebenarnya sudah diperketat oleh Indonesia, melainkan pada dugaan manipulasi yang terus terjadi serta penegakan hukum yang lemah," kata Wu.

Persoalan ini turut menimbulkan keraguan terhadap keakuratan data saham beredar di publik atau free float, yakni porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh investor di pasar.

MSCI memandang transparansi kepemilikan dan kredibilitas data free float sebagai aspek penting untuk memastikan bahwa harga saham serta volume perdagangan mencerminkan aktivitas pasar yang wajar.

Oleh sebab itu, penerbitan regulasi baru dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan tersebut. Otoritas pasar modal perlu membuktikan bahwa aturan diterapkan secara konsisten, antara lain melalui penyelidikan transaksi mencurigakan, pengungkapan kepemilikan saham yang sebenarnya, serta penegakan sanksi terhadap pelanggaran.

Kekhawatiran serupa sebelumnya telah disampaikan MSCI dalam sejumlah pertemuan dengan pejabat Indonesia di New York dan Jakarta. Dalam salah satu pertemuan pada 31 Agustus 2026, seorang eksekutif senior MSCI disebut menekankan pentingnya mekanisme pencegahan manipulasi pasar yang memiliki daya gentar kuat.

MSCI juga menyoroti keterbatasan teknologi dan sistem pengawasan yang diperlukan untuk mendeteksi pola transaksi tidak wajar serta mencegah penyalahgunaan pasar.

Adapun MSCI dijadwalkan mengambil keputusan terkait evaluasi klasifikasi pasar Indonesia pada Juni 2027. Adapun periode konsultasi mengenai potensi penurunan klasifikasi tersebut akan berakhir pada akhir April 2027.

Apabila Indonesia diturunkan menjadi standalone market, pasar saham domestik berpotensi dikeluarkan dari cakupan indeks MSCI untuk pasar berkembang (emerging markets) maupun pasar perbatasan (frontier markets). 

Perubahan tersebut berisiko mendorong arus keluar dana asing, terutama dari pengelola investasi yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan portofolio.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement