Defisit saldo laba tercatat mencapai Rp317,92 miliar, dengan rugi per saham dasar Rp42,26.
Padahal, pendapatan perseroan melonjak sekitar 392 persen secara tahunan menjadi Rp140,45 miliar dari Rp28,54 miliar.
Namun, kenaikan pendapatan belum mampu memperbaiki profitabilitas.
Beban pokok pendapatan mencapai Rp167,14 miliar, melampaui pendapatan sehingga CBRE mencatat rugi bruto Rp26,69 miliar.
Tekanan juga datang dari selisih kurs. CBRE membukukan rugi selisih kurs Rp117,13 miliar, jauh di atas Rp56,37 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Perseroan menggunakan kurs Rp17.998 per dolar AS pada akhir September 2026, dibandingkan Rp16.782 pada akhir 2025. Sementara itu, beban keuangan meningkat menjadi Rp33,48 miliar dari Rp10,09 miliar.