Meski demikian, pertumbuhan kredit masih berpotensi berada di atas panduan 8-10 persen.
“Dengan SAL yang mulai berkurang, mempertahankan pertumbuhan kredit secara material di atas CASA berarti bank harus lebih bergantung pada deposito berjangka atau pendanaan wholesale,” tulis Posmarito.
Karena itu, perlambatan pertumbuhan kredit dapat mengurangi kebutuhan pendanaan pengganti sekaligus memberi ruang bagi bank untuk lebih selektif menyalurkan kredit baru.
“Pertanyaan utamanya bukan lagi sekadar mempertahankan pertumbuhan kredit yang tinggi, melainkan apakah pertumbuhan tambahan tersebut mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai setelah memperhitungkan risiko,” imbuh dia.
Selain pendanaan, kebutuhan modal juga menjadi faktor yang semakin penting bagi keberlanjutan pertumbuhan kredit bank BUMN.