"Kalau dilihat dari track record 20 tahun terakhir, selisih 188 basis poin ini adalah yang paling kecil. Dulu kita harus memberi spread 400, 500, bahkan 600 basis poin baru SBN kita laku," kata dia.
Ketahanan instrumen surat utang domestik ini berlangsung di tengah tekanan suku bunga global yang ekstrem. Posisi yield US Treasury 10 tahun di level 5,28 persen merupakan angka tertinggi dalam dua dekade terakhir dan jarang sekali tersentuh dalam catatan historis pasar finansial global.
Tekanan global tersebut menuntut pemerintah untuk terus bersiap menghadapi volatilitas pasar yang dinamis. Meski Indonesia berhasil menstabilkan spread dinbawah level 200 bps, disiplin pengelolaan ekonomi tetap harus dipertahankan.
"Kondisi ekonomi dunia sedang bergejolak dan bunga obligasi Amerika Serikat sedang tinggi-tingginya, tetapi kita mampu menjaga stabilitas. Namun, kita tidak boleh complacent dan menganggap kondisi ini akan bertahan tanpa kerja keras," ujarnya.
Daya tahan instrumen pembiayaan Indonesia kian terlihat saat disandingkan dengan kelompok negara berkembang (peer group), termasuk India. Sejumlah negara bahkan terpaksa menawarkan imbal hasil jauh lebih tinggi demi memikat likuiditas dari pasar global.