sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

PMI Manufaktur RI Tertinggi dalam 31 Bulan, Menperin: Jangan Cepat Berpuas Diri

Economics editor Nia Deviyana
02/11/2026 17:30 WIB
Laporan S&P Global yang dirilis Senin (2/11/2026) mencatat PMI Manufaktur Indonesia melonjak ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026.
PMI Manufaktur RI Tertinggi dalam 31 Bulan, Menperin: Jangan Cepat Berpuas Diri. Foto: iNews Media Group.
PMI Manufaktur RI Tertinggi dalam 31 Bulan, Menperin: Jangan Cepat Berpuas Diri. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai level tertinggi dalam 31 bulan terakhir. Laporan S&P Global yang dirilis Senin (2/11/2026) mencatat PMI Manufaktur Indonesia melonjak ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026. Ini menjadi laju ekspansi terkuat sejak Maret 2024.

Lonjakan ini ditopang pesanan baru yang tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir, berkat meningkatnya kepercayaan pasar dan peluncuran produk baru. Pesanan ekspor baru bahkan mencetak laju pertumbuhan tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011.

"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin. Ini merupakan perkembangan yang positif dan menjadi indikasi bahwa aktivitas industri nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik. Momentum ini harus kita jaga agar dapat memberikan dampak yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri," ujar Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan data S&P Global, PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 juga lebih tinggi dibandingkan PMI manufaktur Jepang (53,3), Vietnam (52,3), China (52,0), Korea Selatan (51,3), Malaysia (51,0), dan Australia (49,6). PMI di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Makin tinggi angkanya, makin kuat laju perbaikannya.

Meski demikian, Kementerian Perindustrian menilai Indonesia tidak boleh cepat berpuas diri karena masih ada sejumlah negara yang kinerjanya lebih baik.

"Indonesia memiliki potensi industri yang sangat besar, baik dari sisi pasar domestik, sumber daya, maupun kemampuan produksi. Karena itu, penguatan industri harus terus diarahkan agar kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga semakin kompetitif di pasar ekspor," kata Sarmuji.

Menurut Sarmuji, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha industri yang kondusif melalui penguatan ekosistem manufaktur, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri, pengamanan pasar domestik dari persaingan impor yang tidak sehat, serta peningkatan kepastian pasokan energi dan bahan baku bagi industri.

"Industri yang sudah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sedangkan industri yang masih membutuhkan dukungan harus kita pacu agar semakin berkembang. Kita ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," ujar dia.

Penguatan PMI Oktober sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang berada di angka 53,77, naik 1,84 poin dibandingkan September 2026 sebesar 51,93. Angka tersebut juga 0,27 poin lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat 53,50.

Tren penguatan sudah terlihat sejak September. Saat itu, PMI manufaktur Indonesia naik ke 52,4 dari 49,8 pada Agustus 2026, dengan perbaikan kondisi bisnis manufaktur terkuat sejak Februari 2026.

Dalam laporan PMI Oktober, Direktur Bidang Ekonomi S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin menyebut sektor manufaktur Indonesia menutup triwulan ketiga dengan kinerja yang sangat kuat. Peningkatan produksi dan pesanan baru, yang didukung pertumbuhan ekspor, menjadi faktor penting penguatan tersebut.

Balchin juga menyoroti prospek produksi jangka pendek yang menjanjikan. Hal ini tecermin dari peningkatan tunggakan pekerjaan pada September yang mencapai laju tertinggi dalam lima tahun, meskipun perusahaan telah menambah tenaga kerja.

S&P Global juga mencatat tekanan biaya input pada September mereda ke level terendah dalam enam bulan. Kondisi ini mendorong perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku dan memperkuat persediaan input.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement