sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Menperin Tantang Industri Pengolahan Susu Kembangkan Keju dan Es Krim Khas Indonesia

Economics editor Nia Deviyana
22/10/2026 16:53 WIB
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Menperin Tantang Industri Pengolahan Susu Kembangkan Keju dan Es Krim Khas Indonesia. Foto: Kemenperin.
Menperin Tantang Industri Pengolahan Susu Kembangkan Keju dan Es Krim Khas Indonesia. Foto: Kemenperin.

IDXChannel - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong industri pengolahan susu nasional untuk terus meningkatkan diversifikasi produk, memperkuat penggunaan bahan baku lokal, serta mengoptimalkan kapasitas produksi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.

“Kami hari ini berkunjung ke pabrik Cimory. Awalnya kita mengenal Cimory sebagai produsen yoghurt, tetapi sekarang sudah berkembang dengan berbagai diversifikasi produk. Tadi kami tantang Cimory untuk memproduksi lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju khas Indonesia,” kata Menperin saat melakukan kunjungan kerja ke PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).

Menperin menilai, pengembangan produk olahan susu yang disesuaikan dengan karakteristik dan selera masyarakat Indonesia memiliki peluang pasar yang sangat besar. Salah satunya melalui inovasi produk keju dengan cita rasa khas Nusantara.

“Keju yang sesuai dengan selera orang Indonesia itu belum banyak dikembangkan. Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka. Begitu juga dengan es krim dan berbagai produk turunan susu lainnya,” ujar Sarmuji.

Menperin bahkan memberikan tantangan kepada Cimory agar inovasi produk tersebut dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun ke depan.

Selain diversifikasi produk, Sarmuji menyoroti pentingnya peningkatan utilisasi industri nasional yang dinilainya masih belum optimal. Menurutnya, tingkat utilisasi industri yang mendekati 70 persen masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.

“Kalau kita bisa memaksimalkan utilisasi industri sampai 80–85 persen dengan kapasitas yang sudah ada, kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) tentu bisa meningkat lebih signifikan,” kata dia.

Namun, peningkatan utilisasi industri harus didukung ketersediaan bahan baku yang mencukupi dengan harga kompetitif. Oleh karena itu, Kemenperin berkomitmen menjaga kelancaran pasokan bahan baku, termasuk memberikan kemudahan impor bagi kebutuhan produksi yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri.

“Kalau bahan bakunya tersendat, tidak tersedia dalam jumlah cukup dan harga yang kompetitif, tentu utilisasi industri akan rendah. Kami akan memastikan kebutuhan bahan baku industri tercukupi dengan baik. Sepanjang impor untuk kepentingan bahan baku, kita akan beri relaksasi atau kelonggaran,” kata Sarmuji.

Meski demikian, Sarmuji menekankan bahwa bahan baku yang telah tersedia dan mampu diproduksi di dalam negeri harus menjadi prioritas utama industri nasional. “Kalau bahan bakunya sudah tersedia dan bisa diproduksi di Indonesia, tentu kita utamakan produk dalam negeri,” ujarnya.

Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, Pamungkas Bayu Triprasetyo, menyambut positif tantangan Menperin untuk memperluas diversifikasi produk olahan susu.

Menurutnya, inovasi merupakan bagian penting dari strategi pengembangan bisnis Cimory, sehingga perusahaan akan mengkaji peluang produksi berbagai produk turunan susu yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.

“Cimory telah melakukan banyak inovasi dan tentunya tantangan untuk mengembangkan produk baru akan kami jalankan. Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya yang berpotensi dikembangkan di Indonesia,” ujar Pamungkas.

Terkait penggunaan bahan baku lokal, Pamungkas menjelaskan bahwa saat ini sekitar 20–30 persen kebutuhan bahan baku susu Cimory dipenuhi dari susu segar dalam negeri, yang dipasok peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Kami menyerap sekitar 20–30 persen dari total kebutuhan susu. Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” ujar dia.

Pamungkas menambahkan, kebutuhan susu segar untuk produksi Cimory mencapai sekitar 1.000 ton per bulan. Oleh karena itu, peningkatan produksi susu segar nasional menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan industri pengolahan susu.

(NIA DEVIYANA)

Advertisement
Advertisement