sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Industri Petrokimia Dorong Diversifikasi Feedstock dan Kelanjutan Bea Masuk LPG 0 Persen

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
06/11/2026 20:45 WIB
Industri petrokimia nasional mendorong penguatan ketahanan bahan baku melalui diversifikasi feedstock sekaligus kepastian kebijakan energi dan insentif.
Industri Petrokimia Dorong Diversifikasi Feedstock dan Kelanjutan Bea Masuk LPG 0 Persen. (Foto Iqbal Dwi/IMG)
Industri Petrokimia Dorong Diversifikasi Feedstock dan Kelanjutan Bea Masuk LPG 0 Persen. (Foto Iqbal Dwi/IMG)

Fajar menilai pengembangan feedstock berbasis sumber daya lokal membutuhkan kepastian kebijakan agar investasi dapat berjalan dalam jangka panjang.

“Secara keekonomian memang sudah masuk, cuma daya tahannya (endurance) butuh dukungan kebijakan pemerintah. Investasinya kalau sudah ada payung hukumnya yang jelas (head-to-head dengan energi fosil), pasti investasi itu akan masuk,” katanya.

Berdasarkan paparan dari Kemenperin, Kementerian Perindustrian juga mencatat sejumlah rencana investasi industri kimia berbasis gas bumi. Salah satunya proyek PT Pupuk Kalimantan Timur dengan rencana produksi soda ash 300 ribu ton per tahun dan ammonium chloride 300 ribu ton per tahun dengan target komersialisasi 2028.

Kemudian, PT Pupuk Kalimantan Timur juga berencana untuk membangun methanol dengan kapasitas 730 ribu ton per tahun, tetapi masih mengupayakan untuk mendapatkan alokasi gas bumi jangka panjang.

Selain itu terdapat rencana pengembangan kawasan industri petrokimia Teluk Bintuni dengan kapasitas metanol 900 ribu ton per tahun, serta proyek amonia-urea Fak-Fak dengan kapasitas amonia 825 ribu ton per tahun dan urea 1,155 juta ton per tahun.
Pengembangan feedstock alternatif juga dinilai relevan untuk memenuhi kebutuhan produk petrokimia tertentu yang memiliki prospek pertumbuhan.

Untuk Super Absorbent Polymer (SAP), misalnya, kapasitas industri nasional saat ini sekitar 90 ribu ton per tahun dan direncanakan meningkat menjadi 140 ribu ton per tahun pada 2027. Dengan kebutuhan domestik sekitar 100 ribu ton per tahun, tambahan kapasitas tersebut membuka peluang untuk memenuhi pasar dalam negeri sekaligus mengembangkan ekspor.

Di sisi lain, pemerintah dan industri juga melihat pentingnya kepastian pasokan gas dan bahan baku dalam jangka panjang. Kementerian Perindustrian mendorong perpanjangan dan perluasan HGBT, evaluasi kuota dan biaya tambahan, serta pencarian alternatif pasokan gas dengan harga yang lebih kompetitif.

Dengan kombinasi kebijakan insentif, diversifikasi feedstock, penguatan pasokan energi dan percepatan investasi, industri petrokimia diharapkan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi dinamika pasar global sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap penguatan industri manufaktur nasional.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 4 5 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement