Menurut Sri Bimo, LPG dalam industri petrokimia berfungsi sebagai salah satu alternatif bahan baku yang dapat menggantikan sebagian penggunaan nafta. Karena itu, keberlanjutan kebijakan tersebut dinilai dapat memberikan ruang bagi industri untuk mengoptimalkan komposisi bahan baku sesuai kondisi pasar.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menuturkan, fleksibilitas penggunaan feedstock menjadi semakin penting bagi industri petrokimia.
Perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah fasilitas produksi menggunakan kombinasi nafta, LPG dan kondensat sebagai bahan baku. Dengan demikian, produsen dapat menyesuaikan komposisi feedstock berdasarkan harga dan ketersediaan masing-masing bahan.
“Dulu kita 100 persen menggunakan Nafta. Siklus harga LPG ini fluktuatif; saat musim dingin harganya lebih mahal dari Nafta, tapi saat musim panas harganya bisa jauh di bawah Nafta. Jadi, pabrik bisa mengatur secara fleksibel persentase campuran mana yang menghasilkan margin maksimum,” ujar Fajar.