Menurut Fajar, fleksibilitas tersebut juga memperkuat ketahanan pasokan karena industri tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan baku.
Selain mempertahankan fleksibilitas feedstock, industri juga mendorong pengembangan sumber bahan baku alternatif dari dalam negeri. Salah satu peluang yang dinilai potensial adalah pengembangan Coal-to-Chemical melalui gasifikasi batu bara.
Teknologi tersebut dapat mengolah batu bara menjadi metanol yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi bahan baku petrokimia seperti ethylene dan propylene.
“Teknologi Coal-to-Petrochemical dari China itu sekarang sudah banyak dan murah. Kendalanya, batu bara kita yang low-rank (kalori rendah) itu lokasinya jauh di tengah-tengah Kalimantan atau Sumatera, jauh dari pantai, sehingga ongkos logistiknya mahal,” ujar Fajar.
Selain batu bara, industri juga mulai melihat potensi limbah sawit sebagai sumber bahan baku alternatif. Fajar mengatakan, tandan kosong kelapa sawit dapat diolah menjadi metanol.