Sesi kedua membahas dampak kebijakan hijau, regulasi, dan perubahan permintaan pasar terhadap daya saing rantai nilai minyak nabati. Sejumlah isu yang disorot meliputi kebijakan biodiesel B50 Indonesia, pengembangan biofuel berbasis sawit di Malaysia, penguatan industri minyak sawit di Republik Demokratik Kongo, serta dukungan infrastruktur dan peremajaan tanaman bagi petani kecil di Papua Nugini.
Diskusi tersebut melibatkan perwakilan pemerintah dan industri, termasuk Foreign Environmental Cooperation Center China, World Resources Institute China, Dewan Energi Nasional Republik Indonesia, Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Plantations et Huileries du Congo (PHC), dan Oil Palm Industry Corporation Papua Nugini. Para peserta membahas bagaimana kebijakan dan standar dapat memengaruhi praktik produksi serta akses pasar di sepanjang rantai pasok.
Konferensi ini diselenggarakan CPOPC bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Malaysia di Beijing, dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), PHC, dan Oil Palm Industry Corporation. Melalui SVOC, CPOPC berupaya mempertemukan kepentingan negara produsen, konsumen, industri, lembaga riset, dan mitra keberlanjutan untuk mendorong kolaborasi yang lebih konkret.
CPOPC menyatakan akan terus mengembangkan SVOC sebagai platform dialog dan kerja sama lintas negara. Fokus berikutnya adalah memperkuat rantai nilai minyak nabati yang berkelanjutan dan tangguh melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah, inovasi, serta dialog konstruktif di tengah perubahan regulasi dan dinamika perdagangan global.
(Rahmat Fiansyah)