IDXChannel – Inflasi global diperkirakan tetap tinggi hingga 2027 di tengah kenaikan harga energi dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Sejumlah ekonom dunia juga mulai mengkhawatirkan tekanan harga yang semakin persisten, bahkan meluas di luar dampak kenaikan biaya energi.
Berdasarkan survei Reuters terhadap lebih dari 500 ekonom pada Oktober 2026, proyeksi inflasi 2027 direvisi naik untuk 31 dari 50 negara yang disurvei. Pada saat yang sama, proyeksi pertumbuhan ekonomi juga meningkat untuk 23 negara.
Kekhawatiran tersebut muncul ketika harga minyak mentah bertahan di atas USD100 per barel sejak 7 Oktober 2026. Harga minyak bahkan sempat menembus USD117 per barel pada pekan lalu, mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir, serta meningkat lebih dari 60 persen sejak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dimulai.
Kenaikan harga energi dinilai berpotensi mendorong biaya produksi, transportasi, dan harga barang secara lebih luas. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi bertahan lebih lama, terutama jika tekanan harga mulai merambat ke komponen inflasi inti.
Kepala Ekonom Global HSBC, Janet Henry, mengatakan kekhawatiran terhadap inflasi kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
"Semakin lama situasi berlangsung dan meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, serta semakin luasnya tekanan harga, semakin besar kemungkinan inflasi tidak hanya meningkat, tetapi juga bertahan lebih lama," kata Henry.
Survei Reuters menunjukkan revisi proyeksi inflasi tidak hanya terjadi di negara berkembang. Dari 21 negara maju yang tercakup dalam survei, ekonom menaikkan perkiraan inflasi 2027 di 15 negara.
Dalam tiga survei kuartalan terakhir, proyeksi median inflasi 2027 untuk Inggris secara kumulatif meningkat 0,7 poin persentase. Sementara itu, proyeksi inflasi kawasan euro naik 0,5 poin persentase dan Amerika Serikat (AS) meningkat 0,2 poin persentase.
Di negara berkembang, proyeksi inflasi India naik 0,4 poin persentase, sedangkan Brasil meningkat 0,5 poin persentase.
Kenaikan proyeksi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan harga mulai menjadi perhatian lebih luas, termasuk di negara-negara yang secara historis memiliki tingkat inflasi relatif rendah.
Kepala Ekonom Global Morgan Stanley, Seth Carpenter, menilai kenaikan harga energi masih memberikan dampak terhadap perekonomian dunia. Namun, aktivitas ekonomi relatif bertahan berkat investasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan di sejumlah kawasan.