Urgensi kerja sama tersebut terlihat dari skala pasar minyak nabati global. Produksi minyak nabati pada 2026 diperkirakan mencapai 234 juta ton, dengan minyak sawit menyumbang sekitar 85 juta ton atau lebih dari sepertiga total produksi. Minyak sawit, kedelai, rapeseed, dan bunga matahari memiliki karakteristik berbeda, tetapi saling terhubung melalui perdagangan, pembentukan harga, substitusi, serta permintaan pangan dan industri.
China menjadi salah satu pasar strategis dalam rantai pasok tersebut. Konsumsi minyak nabati negara itu pada 2025 diperkirakan mencapai 35,8 juta ton, termasuk 5,07 juta ton minyak sawit. Besarnya pasar China memperkuat kebutuhan kolaborasi antara negara produsen dan konsumen dalam perdagangan, teknologi, inovasi, dan pengembangan standar keberlanjutan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas petani kecil tanpa perluasan lahan perkebunan. Adapun Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, Noraini Ahmad mendorong penerapan standar keberlanjutan yang mendukung akses produsen ke pasar global, bukan justru menjadi penghambat. Perwakilan Honduras juga menekankan pentingnya sistem ketertelusuran yang kredibel untuk membuktikan keberlanjutan produksi.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pemanfaatan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Dalam sesi “Driving Sustainability through Productivity and Innovation”, peserta membahas penggunaan bahan tanam unggul, mekanisasi, agronomi presisi, teknologi pertanian, serta standar keberlanjutan untuk memperkuat daya saing industri minyak nabati.
Sesi tersebut menghadirkan perwakilan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK), AAK China, China Customs Brokers Association, Sinar Mas Agribusiness and Food, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan WWF China. Diskusi juga menyoroti peluang China memperluas perdagangan minyak nabati berkelanjutan dan meningkatkan transparansi rantai pasok lintas komoditas.