Menurut Rahma, opsi mengerek suku bunga acuan (BI Rate) juga dihadapkan pada dilema karena berisiko menekan pemulihan sektor riil dan penyaluran kredit UMKM serta korporasi.
Oleh karena itu, Rahma menekankan pentingnya penguatan koordinasi fiskal-moneter dan komunikasi disiplin anggaran APBN demi meredam persepsi risk-off di pasar.
"Kebijakan yang diambil BI dan pemerintah bukan tidak bekerja, melainkan bekerja sebagai benteng pertahanan (shock absorber) agar pasar tidak mengalami kepanikan total. Namun, untuk benar-benar membalikkan keadaan (turning point), intervensi moneter saja tidak cukup. Diperlukan penguatan kepastian fiskal, peningkatan kepercayaan investor melalui reformasi struktural, serta perbaikan fundamental transaksi berjalan agar pasokan valas domestik benar-benar berlimpah secara murni," kata dia.
(NIA DEVIYANA)