Dari dalam negeri, ekspektasi likuiditas valas korporasi hingga isu penyesuaian pasar modal seperti evaluasi indeks MSCI turut memengaruhi tingkat kepercayaan investor asing.
Dampak langsung dari pelemahan ke level Rp18.100 per USD ini mengancam industri manufaktur nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor, mulai dari sektor kimia, elektronik, farmasi, hingga bahan pangan dan pakan ternak.
"Industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti bahan kimia, komponen elektronik, farmasi, hingga bahan pangan dan pakan ternak, akan langsung merasakan pembengkakan biaya produksi (imported inflation). Korporasi sering kali dihadapkan pada dilema antara menyerap biaya (menggerus margin profit) atau menaikkan harga jual produk, yang pada akhirnya berisiko menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah," ujar Rahma.
Mengenai efektivitas kebijakan intervensi Bank Indonesia (BI), Rahma berpendapat bahwa instrumen ganda di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bekerja efektif sebagai penyangga gejolak (shock absorber), namun memiliki keterbatasan struktural untuk membalikkan tren (trend reversal).
"Secara umum, respons yang ditempuh otoritas belum fully efektif meredam tekanan struktural, meskipun intervensi yang dilakukan berhasil mencegah depresiasi yang jauh lebih ekstrem atau liar (disorderly market conditions). Intervensi ganda (spot dan DNDF) efektif untuk meredam volatilitas jangka pendek (smoothing the path), namun tidak bisa mengubah tren fundamental jika tekanan global dan capital outflow terus mendominasi," ujar Rahma.