sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Turun Lebih dari 3 Persen ke Bawah 5.000 di Tengah Tekanan Jual Asing

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
03/11/2026 14:39 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (3/11/2026), hingga menembus level psikologis 5.000.
IHSG Turun Lebih dari 3 Persen ke Bawah 5.000 di Tengah Tekanan Jual Asing. (Foto: MNC Media)
IHSG Turun Lebih dari 3 Persen ke Bawah 5.000 di Tengah Tekanan Jual Asing. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (3/11/2026), hingga menembus level psikologis 5.000.

Tekanan jual yang meluas turut dibayangi aksi jual investor asing terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 14.23 WIB, IHSG turun 3,42 persen ke level 4.922,68. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp7,39 triliun dengan volume perdagangan 18 miliar saham.

Tekanan terjadi secara merata. Sebanyak 701 saham melemah, hanya 80 saham menguat, sedangkan 182 saham lainnya bergerak stagnan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks.

Saham dua emiten milik taipan Prajogo Pangestu PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 6,70 persen, mendekati batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 7 persen. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melemah 6,69 persen.

Tekanan juga terjadi pada saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang turun 4,34 persen, PT Astra International Tbk (ASII) terkoreksi 4,73 persen, dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) melemah 2,66 persen.

Empat saham perbankan berkapitalisasi besar turut berada di zona merah.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 3,55 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,97 persen, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 2,41 persen, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 2,74 persen.

Tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual investor asing.

Pada sesi I, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp831,55 miliar.

Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual asing terbesar terjadi pada BBRI senilai Rp173,45 miliar, diikuti TLKM sebesar Rp95,77 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp69,40 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp59,93 miliar.

Di sisi lain, BRIS menjadi saham dengan net foreign buy terbesar sebesar Rp37,87 miliar, diikuti BMRI sebesar Rp27,88 miliar dan BBNI sebesar Rp16,63 miliar.

Selain arus dana asing, pelaku pasar juga mencermati MSCI Index Review yang dijadwalkan pada 11-12 November 2026.

Potensi perubahan konstituen dan bobot saham menjadi perhatian investor di tengah ketidakpastian mengenai posisi Indonesia dalam indeks global tersebut.

Pasar juga menantikan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Selasa (3/11/2026).

Pertemuan tersebut diharapkan memberikan respons terhadap gejolak pasar modal, pelemahan rupiah, dan stabilitas sistem keuangan.

Dari eksternal, sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan geopolitik dan harga minyak.

Harga minyak Brent sempat anjlok 7,63 persen menjadi USD104,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 7,36 persen ke USD96,46 per barel pada Senin (2/11/2026). Pelemahan terjadi seiring harapan negosiasi damai Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui mediasi Qatar.

Namun, harga minyak kembali bergerak naik ke sekitar USD105 per barel pada Selasa setelah muncul laporan serangan AS di Pulau Qeshm, Iran.

Sementara itu, aktivitas manufaktur China masih menunjukkan ekspansi.

PMI Manufaktur RatingDog Oktober tercatat sebesar 52,0, melampaui ekspektasi 51,6 meski sedikit turun dari 52,1 pada September. Produksi tumbuh pada laju tercepat dalam enam bulan.

Pelaku pasar juga mencermati pemilu sela atau midterm election AS yang berlangsung pada 3 November 2026.

Hasil pemilu berpotensi mengubah komposisi Kongres dan memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dari sisi teknikal, Maybank Sekuritas menilai IHSG berpotensi telah menyelesaikan wave [ii] di level 5.321 pada perdagangan Selasa (3/11) dan kini melanjutkan koreksi dalam pembentukan wave [iii]. Target ideal koreksi berada pada Fibonacci projection (FP) 1,618 di level 4.855.

Dalam kerangka waktu yang lebih besar, IHSG juga dinilai berpotensi berada pada wave 5 dari wave (A), dengan target pelemahan di kisaran 4.850 hingga 4.367.

Senada, Sinarmas Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam tren bearish setelah menembus strong support 4.980.

Indeks berpeluang melanjutkan pelemahan dengan menguji support berikutnya di level 4.820 dan 4.754. Sementara, level resistance berada di level 5.073 dan 5.185. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement