Dengan demikian, sekitar tiga perempat dari tambahan produksi akan terserap oleh kebutuhan dalam negeri.
Ketersediaan batu bara untuk ekspor diperkirakan hanya bertambah sekitar 5 juta ton secara tahunan, sebelum memperhitungkan penyesuaian lainnya.
Permintaan listrik dari pusat data atau data center turut berkontribusi terhadap kenaikan konsumsi tersebut.
CGSI mengestimasi sektor ini menyerap sekitar 900 ribu ton batu bara pada 2027, setara 6,3 persen dari tambahan permintaan domestik. Selebihnya terutama berasal dari pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas industri yang lebih luas.
Meski ruang pertumbuhan ekspor Indonesia relatif terbatas, pemulihan produksi batu bara di China dan India tetap menjadi risiko bagi harga global.