Pendapatan turun 6 persen secara kuartalan menjadi USD1,41 miliar, seiring penurunan volume penjualan batu bara sebesar 2,9 persen menjadi 17,9 juta ton dan pelemahan ASP sebesar 6,9 persen menjadi USD72,70 per ton.
Kenaikan rasio pengupasan lapisan tanah (strip ratio) dari 3,82 kali menjadi 4,39 kali turut menekan biaya produksi. Biaya kas per ton meningkat 5,2 persen secara kuartalan menjadi USD52,10.
Kondisi tersebut membuat laba operasional (EBIT) turun 11,9 persen menjadi USD400,9 juta. Sementara itu, laba bersih merosot 36,6 persen secara kuartalan menjadi USD209,6 juta.
Penurunan laba bersih juga dipengaruhi kenaikan beban pajak menjadi USD160,1 juta dari USD85,6 juta pada kuartal sebelumnya. Di dalamnya termasuk pajak keuntungan modal (capital gains tax) sebesar USD79,3 juta terkait penjualan Kestrel.
Jika mengecualikan dampak bersih transaksi Kestrel yang mencapai USD57,8 juta, laba inti AADI diperkirakan sekitar USD267,4 juta.