Ketika nama investor atau influencer terkenal muncul, posisi tersebut bisa saja sudah terbentuk dan harga saham sudah bergerak lebih dahulu.
Di sinilah risiko mengikuti nama besar muncul. Investor ritel berpotensi membeli bukan berdasarkan valuasi atau prospek usaha, melainkan karena menganggap masuknya figur terkenal sebagai sinyal bahwa saham tersebut akan naik.
Padahal, rekam jejak pergerakan saham yang dikaitkan dengan para investor tersebut memperlihatkan hasil yang tidak seragam.
Bahkan, sejumlah emiten masih mencatatkan ekuitas negatif, kerugian, atau kebutuhan pendanaan yang besar.
Cerita aksi korporasi pun belum tentu langsung menghasilkan perbaikan kinerja operasional.