Riset terbaru NEXT Indonesia Center bertajuk “Anomali Surplus Beras” mengungkapkan dislokasi harga paling tajam justru melanda empat provinsi lumbung padi nasional, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.
“Secara kolektif, data BPS 2025 mencatat keempat daerah tersebut menyumbang sekitar 16,5 juta ton atau hampir separuh dari total produksi beras nasional. Kendati demikian, data September 2026 justru menunjukkan harga beras di daerah-daerah tersebut telah melampaui HET Zona 1, yaitu Rp13.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp14.900 per kilogram untuk beras premium,” ungkapnya.
Penelusuran mendalam terhadap tata niaga beras memperlihatkan bahwa lonjakan harga di tingkat eceran dipicu oleh pembengkakan ongkos produksi sejak dari hulu.
Di Sumatra Selatan, misalnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mencatat harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani menembus Rp7.700 per kilogram, melesat jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang dipatok Rp6.500 per kilogram.
Kondisi tersebut berimbas langsung pada lonjakan kebutuhan modal kerja di tingkat penggilingan hingga pedagang pasokan.