“Namun, pengembangan PLTS di Indonesia masih menghadapi persoalan biaya dan hambatan regulasi. Studi menggarisbawahi biaya pembangkitan listrik PLTS skala besar di Indonesia berkisar antara USD5–10 sen per kWh, lebih tinggi dibandingkan India yang mencapai sekitar USD3,7 sen per kWh,” ujar Deon di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Dia menambahkan, kesenjangan biaya tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain biaya lahan, keterbatasan jaringan listrik, biaya interkoneksi, serta proses perizinan dan pengembangan proyek.
Selain itu, penerapan persyaratan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang belum selaras dengan kesiapan industri berpotensi meningkatkan biaya komponen dan menghambat percepatan pembangunan PLTS.
Hasil pemodelan sistem kelistrikan IESR menunjukkan, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dapat menurunkan biaya sistem kelistrikan. Dalam skenario elektrifikasi tinggi dengan biaya terendah, kapasitas terpasang PLTS diproyeksikan mencapai 69 GW pada 2035, dengan porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik sebesar 44 persen.
Biaya rata-rata sistem kelistrikan dalam skenario tersebut diperkirakan mencapai USD8,5 sen per kWh, lebih rendah dibandingkan skenario elektrifikasi tinggi berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), yakni USD8,9 sen per kWh. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan porsi energi terbarukan tidak selalu membuat sistem kelistrikan lebih mahal, selama pengembangannya dilakukan secara efisien.