IDXChannel - Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang dicanangkan pemerintah perlu dibarengi reformasi kebijakan kelistrikan untuk menciptakan pasokan listrik yang kompetitif bagi industri. Langkah ini penting untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus menopang target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Studi Powering Indonesia's Growth: A More Electrified, More Renewable Economy with Solar at Its Core yang disusun Institute for Essential Services Reform (IESR), Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Energy Transitions Commission (ETC), dan SYSTEMIQ menunjukkan, pengembangan sistem kelistrikan yang lebih bersih dan efisien dapat memperkuat daya saing industri serta menekan biaya energi. Selain itu, proyek energi bersih berpotensi menciptakan lapangan kerja dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil.
Studi tersebut memproyeksikan kebutuhan listrik Indonesia meningkat signifikan seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Dalam skenario bisnis seperti biasa (business as usual), permintaan listrik diperkirakan naik dari 440 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 695 TWh pada 2035.
Sementara itu, dalam skenario elektrifikasi tinggi, kebutuhan listrik diproyeksikan mencapai 855 TWh pada 2035, atau tumbuh sekitar 7 persen per tahun. Peningkatan tersebut didorong oleh meluasnya penggunaan listrik di sektor industri, transportasi, rumah tangga, dan kegiatan ekonomi lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan itu, energi surya dinilai strategis karena dapat dibangun lebih cepat dibandingkan sebagian besar teknologi pembangkit lainnya.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi IES, Deon Arinaldo menjelaskan, kecepatan pembangunan menjadi salah satu keunggulan PLTS dalam memenuhi tambahan kebutuhan listrik. Konstruksi PLTS untuk kebutuhan industri dapat diselesaikan dalam dua hingga enam bulan, sedangkan PLTS yang terhubung ke jaringan listrik membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga dua tahun. Sebagai perbandingan, pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara yang terhubung ke jaringan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam tahun.