Selain konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,04 persen, akselerasi ekonomi nasional pada periode ini turut ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi yang melesat 6,06 persen dengan kontribusi 30,81 persen terhadap PDB, konsumsi pemerintah yang tumbuh 8,95 persen, serta lonjakan aktivitas masyarakat pada kelompok restoran dan hotel sebesar 6,59 persen dan sektor transportasi-komunikasi sebesar 5,83 persen.
Kendati pemerintah memandang positif kondisi perekonomian, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menekankan agar pengambil kebijakan tetap mewaspadai tren deselerasi konsumsi domestik. Catatan statistik kuartalan menunjukkan adanya penurunan kecepatan belanja masyarakat pada kuartal ketiga bila dikomparasikan dengan kuartal sebelumnya.
"Konsumsi rumah tangga (RT) di triwulan III-2026 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II-2026. Pertumbuhan konsumsi RT triwulan II-2026 sebesar 5,06 persen, sedangkan pertumbuhan konsumsi RT triwulan III 2026 menjadi 5,04 persen," kata Huda dalam analisisnya, dikutip Minggu (8/11/2026).
Dia mengingatkan bahwa dominasi konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh PDB nasional memiliki dampak sistemik terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia membandingkan pergerakan kuartalan saat ini dengan pola historis tahun sebelumnya ketika perlambatan belanja masyarakat langsung berdampak pada penurunan laju PDB.
"Memang dibandingkan pertumbuhan konsumsi RT triwulan III-2025, angka saat ini lebih tinggi, namun pada saat itu pertumbuhan ekonomi juga melambat dari 5,12 persen (triwulan II-2025) menjadi 5,04 persen (triwulan III-2025). Dengan kontribusi lebih dari 50 persen, perlambatan konsumsi RT seharusnya menyeret pertumbuhan ekonomi secara total," kata Huda.
(NIA DEVIYANA)