Yassierli menambahkan, pendekatan perekrutan tenaga kerja juga mulai menitikberatkan pada penguasaan keterampilan atau skill-first. Pendekatan ini menempatkan kompetensi sebagai salah satu pertimbangan utama perusahaan dalam menilai kesesuaian calon pekerja dengan posisi yang dibutuhkan.
"Yang saat ini dicari oleh perusahaan yang memiliki big data adalah kompetensinya, itu yang disebut dengan skill, dan kita sedang mencoba untuk membangun itu pada angkatan kerja di Indonesia," katanya.
Kemnaker menilai penyelarasan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha. Kerja sama tersebut diperlukan agar keterampilan yang dikembangkan melalui program pelatihan lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Melalui pembangunan balai pelatihan dan perluasan program vokasi, pemerintah berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pengembangan kompetensi. Namun, efektivitas program tersebut juga akan ditentukan oleh kesesuaian pelatihan dengan kebutuhan perusahaan serta peluang peserta untuk memasuki dunia kerja.
(NIA DEVIYANA)