Rincian pembiayaan utang tersebut bersumber dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto yang menembus Rp527,4 triliun, atau 66 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp799,5 triliun.
Di sisi lain, komponen pinjaman mencatatkan nilai negatif Rp21,4 triliun (minus 65,5 persen terhadap target tahunan) yang menandakan bahwa pembayaran pokok pinjaman pemerintah lebih besar ketimbang penarikan pinjaman baru.
Suahasil menegaskan bahwa kinerja pembiayaan utang senantiasa terjaga secara aman di tengah tingginya gejolak ketidakpastian pasar keuangan global.
Menurutnya, pasar SBN Indonesia terbukti memiliki daya tahan yang solid serta terus memikat minat investor.
"Pasar SBN kita tetap solid di tengah ketidakpastian global. Respons APBN memastikan pasar solid," katanya.