Dia berharap para investor domestik tidak perlu melakukan panik berlebihan dengan hingga memicu aksi jual masif. Sebab, beberapa emiten yang juga masih memiliki kinerja dan fundamental perusahaan yang cukup baik.
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kinerja keuangan agregat perusahaan tercatat yang telah menyampaikan laporan keuangan kuartal II-2026 hingga 30 Juni 2026 menunjukkan peningkatan pada sejumlah indikator utama. Pendapatan agregat tercatat naik Rp382,85 triliun atau sekitar 13,31 persen, dari Rp2.877,13 triliun menjadi Rp3.259,98 triliun.
Sementara itu, laba bersih agregat meningkat Rp0,56 triliun atau sekitar 0,16 persen, dari Rp340,62 triliun menjadi Rp341,18 triliun. Dari sisi neraca, total aset perusahaan tercatat bertambah Rp545,19 triliun atau sekitar 2,53 persen, dari Rp21.583,59 triliun menjadi Rp22.128,77 triliun. Adapun ekuitas agregat meningkat Rp59,69 triliun atau sekitar 0,84 persen, dari Rp7.136,34 triliun menjadi Rp7.196,02 triliun.
Dradjad juga berharap investor dalam negeri mampu melakukan perhitungan sendiri dalam berinvestasi di pasar modal. Sebab, IHSG yang anjlok hingga 11,5 persen pada hari ini disebabkan oleh aksi penjualan massal dari investor yang terseret sentimen MSCI.
"Jadi yang terjadi sekarang ini karena investor domestik terlalu gampang panik karena mungkin belum pede untuk berhitung sendiri," katanya.
(Dhera Arizona)