IDXChannel - Indeks-indeks utama saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, melonjak pada pembukaan perdagangan Kamis (17/9/2026). Ini terjadi akibat penurunan harga minyak yang mendongkrak sentimen pasar.
Selain itu, kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh juga turut meyakinkan investor akan komitmen bank sentral tersebut dalam mengatasi inflasi.
Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 316,08 poin atau 0,59 persen menjadi 51.763,46, S&P 500 menguat 71,28 poin atau 0,94 persen ke level 7.623,09, dan Nasdaq Composite menanjak 321,49 poin atau 1,25 persen menjadi 26.302,28.
Keputusan kebijakan The Fed menjawab sumber kekhawatiran yang telah lama ada, sehingga memungkinkan investor untuk kembali melirik saham-saham favorit mereka. Saham sektor teknologi mencatatkan kenaikan, dengan Nvidia dan Amazon masing-masing naik hampir 2 persen.
Kenaikan ini akan menjadi krusial bagi investor di paruh kedua September, yang secara historis merupakan bulan yang lemah bagi pasar saham. Indeks acuan S&P 500 telah turun 1,7 persen sepanjang bulan ini.
"Meskipun argumen bahwa harga energi tinggi akibat gangguan sementara di Timur Tengah mungkin benar, inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun," ujar Chief Investment Officer di Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.
"Warsh berhasil mengambil langkah yang sangat tepat dan seimbang," katanya.
Namun, The Fed memperingatkan kenaikan lebih lanjut mungkin diperlukan dalam beberapa bulan mendatang untuk mengendalikan harga. Ketidakpastian mengenai seberapa tinggi suku bunga pada akhirnya akan naik kemungkinan akan membuat pasar saham dan obligasi tetap fluktuatif dalam beberapa minggu ke depan.
Menurut data FedWatch dari CME, sekira 49 persen investor melihat adanya peluang kenaikan suku bunga berikutnya saat bank sentral mengadakan pertemuan pada Oktober, dibandingkan dengan sekitar 44 persen sehari sebelumnya.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan juga mengalami penurunan, sehingga mengurangi tekanan pada pasar saham. Imbal hasil tinggi pada obligasi pemerintah AS yang bebas risiko biasanya mengurangi daya tarik saham.
Sementara itu, harga minyak turun selama dua hari berturut-turut. Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun hampir 3 persen menjadi USD102,90, sedangkan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,8 persen menjadi USD100,62.
Indeks S&P 500 mencatatkan tiga rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan tiga rekor terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite mencatat 21 rekor tertinggi baru dan 28 rekor terendah baru.
(Dhera Arizona)