Kenaikan ini akan menjadi krusial bagi investor di paruh kedua September, yang secara historis merupakan bulan yang lemah bagi pasar saham. Indeks acuan S&P 500 telah turun 1,7 persen sepanjang bulan ini.
"Meskipun argumen bahwa harga energi tinggi akibat gangguan sementara di Timur Tengah mungkin benar, inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun," ujar Chief Investment Officer di Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.
"Warsh berhasil mengambil langkah yang sangat tepat dan seimbang," katanya.
Namun, The Fed memperingatkan kenaikan lebih lanjut mungkin diperlukan dalam beberapa bulan mendatang untuk mengendalikan harga. Ketidakpastian mengenai seberapa tinggi suku bunga pada akhirnya akan naik kemungkinan akan membuat pasar saham dan obligasi tetap fluktuatif dalam beberapa minggu ke depan.
Menurut data FedWatch dari CME, sekira 49 persen investor melihat adanya peluang kenaikan suku bunga berikutnya saat bank sentral mengadakan pertemuan pada Oktober, dibandingkan dengan sekitar 44 persen sehari sebelumnya.