Kekhawatiran ini diperparah oleh pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, kepada CNBC bahwa terdapat kelangkaan modal untuk pengembangan AI, seraya menambahkan bahwa permintaan akan modal jauh lebih besar daripada ketersediaannya.
"Muncul kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan tersebut justru meningkatkan biaya pendanaan, namun tidak akan menghasilkan imbal hasil yang cukup untuk membenarkan investasi besar mereka. Kini, muncul kekhawatiran lain yang lebih mendesak: apakah tersedia cukup modal untuk membiayai rencana belanja AI yang ambisius dari semua pihak?" tulis para analis di Yardeni Research dalam sebuah catatan.
Meski demikian, tekanan penurunan tampak mulai mereda, dengan beberapa saham terkait AI mencatatkan kenaikan. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali naik tipis, setelah sebelumnya—akibat kekhawatiran seputar AI—para investor sempat beralih ke obligasi pemerintah sebagai aset aman pada Kamis, yang memicu penurunan harian terbesar bagi instrumen acuan tersebut sejak Maret 2023.
Di sisi lain, harga minyak turut menambah ketidakpastian prospek ekonomi. Harga minyak mentah Brent kembali menguat pada Jumat, menembus level USD116 per barel dan mendekati level tertinggi yang sempat dicapai saat konflik Iran. Terdapat kekhawatiran luas bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik dapat mengganggu pemulihan pasokan energi dari Timur Tengah yang baru saja terjadi.
Terlepas dari potensi tekanan inflasi yang dipicu oleh harga energi, Federal Reserve diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan minggu depan. Menyusul kenaikan suku bunga pertama sejak 2023 pada September lalu, beberapa pengambil kebijakan di The Fed menyatakan bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat belum terlalu mendesak, meskipun mereka tetap menekankan perlunya meredam inflasi hingga mencapai target 2 persen.