IDXChannel - Wall Street dibuka tertekan pada perdagangan Kamis (24/9/2026) akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).
Dikutip dari AP, indeks S&P 500 turun 0,4 persen dan berada di jalur pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut setelah sebelumnya mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Dow Jones Industrial Average turun 124 poin atau 0,2 persen pada pukul 09.35 waktu setempat, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,6 persen.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat biaya pinjaman semakin mahal bagi konsumen, perusahaan, maupun pemerintah AS. Kondisi tersebut berpotensi menekan konsumsi masyarakat, investasi perusahaan, termasuk pembangunan pusat data untuk teknologi kecerdasan artifisial (AI), serta pembiayaan defisit pemerintah.
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun sempat mendekati 5,15 persen pada Kamis pagi sebelum turun menjadi 5,09 persen. Angka tersebut masih berada di atas level 5,11 persen pada penutupan perdagangan Rabu dan kembali mendekati level yang terakhir terlihat pada 2007.
Kenaikan imbal hasil juga terjadi di tengah lonjakan harga minyak setelah perang dengan Iran mendorong harga energi. Harga minyak mentah Brent naik 1,8 persen menjadi USD99,88 per barel. Menurut AAA, harga rata-rata bensin reguler di AS telah meningkat menjadi USD4,48 per galon dari kurang dari USD4,10 sebulan lalu dan USD3,16 setahun sebelumnya.