IDXChannel - Indeks-indeks utama Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Senin (2/11/2026) dengan saham-saham teknologi dan terkait kecerdasan buatan (AI) mulai stabil setelah mengalami kinerja buruk sepanjang Oktober.
Sentimen risiko investor juga menurun seiring proyeksi harga minyak mentah melandai di tengah meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 403,09 poin atau 0,78 persen menjadi 52.173,40 pada pembukaan perdagangan. Indeks S&P 500 (.SPX) menguat 33,80 poin atau 0,45 persen ke level 7.613,87. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite (.IXIC) naik 159,07 poin atau 0,63 persen menjadi 25.596,07 saat perdagangan dibuka.
Strategis Morgan Stanley menyatakan bahwa koreksi pasar saham AS yang dimulai pada Juni kini telah memasuki tahap akhir. Mereka menilai pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada 3 November seharusnya dapat membantu menghilangkan salah satu faktor utama yang selama ini membebani pasar.
"Kami memperkirakan sejumlah katalis jangka pendek akan memberikan peluang menarik untuk meningkatkan eksposur risiko pada saham-saham siklikal berkualitas yang telah mengalami penurunan valuasi, menjelang 2027," ujar para strategis yang dipimpin Kepala Strategi Ekuitas AS Morgan Stanley, Michael Wilson.
Wilson mengatakan, indeks S&P 500 kini mulai mengejar pelemahan yang lebih luas di pasar saham (weaker market breadth), yang biasanya merupakan tahap terakhir dari penurunan pasar. Dia mencatat, sebanyak 60 persen saham dalam indeks Russell 3000 telah mengalami koreksi setidaknya 20 persen sejak Juni.
Namun, risiko koreksi pasar yang dipicu oleh kinerja laba perusahaan-perusahaan AI sempat membuat investor tetap waspada. Pada bulan lalu, indeks Nasdaq-100 (.NDX) yang didominasi saham teknologi kehilangan nilai kapitalisasi pasar hingga triliunan dolar dan nyaris memasuki wilayah koreksi.
Menurut para strategis Morgan Stanley, saham-saham berkapitalisasi besar (large-cap stocks) secara historis mencatat kenaikan rata-rata 15 persen dalam enam bulan setelah hasil pemilu diumumkan. Mereka menambahkan bahwa kemenangan Partai Demokrat di kedua kamar Kongres AS (Democratic sweep) telah diperhitungkan oleh investor dalam harga saham.
Risiko yang lebih besar justru berasal dari perkembangan setelah pemungutan suara, termasuk potensi kembali meningkatnya eskalasi militer dengan Iran atau pemberlakuan tarif baru, kata Morgan Stanley.