IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 9 poin atau 0,05 persen ke Rp18.156 per USD.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan sebagian besar tekanan terhadap rupiah berawal dari minyak, karena harga minyak yang lebih tinggi membuat Indonesia mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk impor bahan bakar dan mendorong kenaikan harga di AS.
"Kenaikan harga di AS memberi The Fed alasan untuk menaikkan suku bunga pada Desember, yang dapat menarik dana asing keluar dari pasar seperti Indonesia. Kondisi ini membuat Bank Indonesia harus memutuskan sejauh mana menjaga rupiah, karena suku bunga acuan yang lebih tinggi juga akan membuat pinjaman di dalam negeri lebih mahal," ujar Sana dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).
Kontrak berjangka suku bunga AS, yaitu kontrak yang harganya mencerminkan perkiraan investor atas arah suku bunga AS, menunjukkan peluang 83 persen kenaikan suku bunga pada Desember, naik dari sekitar 71 persen pada 23 Oktober. Kenaikan tersebut, jika terjadi, akan menyusul kenaikan suku bunga The Fed pada September, yang pertama sejak 2023.
The Fed menyatakan pertumbuhan lapangan kerja sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran relatif tidak berubah, sementara inflasi masih tinggi. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan kenaikan harga energi tidak boleh meluas menjadi tekanan inflasi di seluruh perekonomian. Ia mengatakan informasi terbaru akan menjadi dasar kebijakan, tanpa memastikan kenaikan suku bunga pada Desember dalam pernyataan pembukanya.