IDXChannel – Sembilan saham perbankan tercatat memiliki valuasi di bawah minus dua standar deviasi (minus 2 SD) dari rasio price to book value (PBV) historis selama 10 tahun terakhir.
Kondisi ini mengindikasikan valuasi saham-saham tersebut berada di level relatif rendah dibandingkan pola historisnya, meski belum tentu menandakan harga telah mencapai titik terendah.
Berdasarkan data BRI Danareksa Sekuritas per Rabu (29/10/2026), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi saham dengan posisi valuasi paling jauh dibandingkan ambang historis tersebut. PBV BRIS saat ini tercatat sebesar 0,97 kali, jauh di atas batas minus 2 SD historisnya yang hanya 0,02 kali.
Selisih tersebut mencapai 97,9 persen dari batas historis. Angka ini menempatkan BRIS sebagai saham dengan deviasi terbesar di antara sembilan saham perbankan yang masuk dalam daftar.
Selain BRIS, saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) juga mencatatkan selisih signifikan terhadap batas minus 2 SD historis, masing-masing sebesar 59,5 persen dan 59 persen. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) memiliki selisih sebesar 54,3 persen.
Pada kelompok bank besar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat memiliki PBV saat ini sebesar 2,29 kali, lebih rendah dibandingkan ambang minus 2 SD historisnya di level 3,08 kali. Selisihnya mencapai 25,6 persen.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga berada di bawah ambang tersebut. PBV BBRI tercatat sebesar 1,37 kali, dibandingkan batas historis 1,53 kali, atau lebih rendah 10,5 persen.
Sebaliknya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menunjukkan selisih yang lebih tipis terhadap ambang historisnya.
PBV BMRI tercatat sebesar 1,22 kali, sedikit di atas batas 1,16 kali, sedangkan BBNI memiliki PBV 0,74 kali, dibandingkan batas historis 0,65 kali.
Dua saham lainnya, yakni PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) dan BBTN, masing-masing memiliki PBV sebesar 0,34 kali dan 0,35 kali. Angka tersebut berada di atas ambang minus 2 SD historis masing-masing sebesar 0,28 kali dan 0,16 kali.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan bahwa valuasi sembilan saham perbankan berada di bawah batas minus 2 SD historisnya, dengan tingkat deviasi yang berbeda-beda.
Meski demikian, PBV yang berada di bawah ambang historis tidak serta-merta berarti suatu saham sudah murah secara fundamental.
Investor tetap perlu mencermati kualitas aset, potensi pertumbuhan kredit, profitabilitas, pencadangan, serta prospek kinerja masing-masing bank sebelum mengambil keputusan investasi.
Indikator minus 2 SD sendiri merupakan ukuran statistik yang menunjukkan posisi valuasi relatif terhadap distribusi historis selama periode tertentu.
Karena itu, indikator ini lebih tepat digunakan sebagai titik awal untuk mengidentifikasi saham yang valuasinya menyimpang dari pola historis, bukan sebagai sinyal pasti bahwa harga saham akan segera berbalik naik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.