Victor dan Nataniella menilai, dari sisi valuasi, penurunan harga saham perbankan dalam siklus ini bahkan lebih dalam dibandingkan dengan periode pandemi Covid-19. Penurunan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) dari puncak ke titik terendah mencapai 61 persen untuk BBCA, 62 persen untuk BBRI, dan 58 persen untuk BMRI. Pada periode Covid-19, penurunannya masing-masing sebesar 37 persen, 59 persen, dan 54 persen.
Berdasarkan proyeksi tahun buku 2026, BBCA diperdagangkan pada PBV 2,1 kali, BBRI sebesar 1,2 kali, BMRI sebesar 1 kali, dan BBNI sebesar 0,6 kali. Valuasi tersebut mendekati atau bahkan lebih rendah dibandingkan dengan titik terendah pada masa pandemi.
Sementara itu, fundamental perbankan dinilai masih relatif terjaga. Saham bank-bank tersebut diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) proyeksi 2026 sebesar 5,3-10,5 kali, dengan tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) sebesar 11,8-20,8 persen. Imbal hasil dividen atau dividend yield diperkirakan mencapai 6,8-13,1 persen.
Meski valuasi semakin murah, kepemilikan asing yang masih cukup besar dinilai masih menjadi salah satu risiko. Porsi kepemilikan asing tercatat sebesar 69 persen pada BBCA, 55 persen pada BBRI, 55 persen pada BMRI, dan 53 persen pada BBNI. Angka tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi investor asing untuk mengurangi kepemilikan apabila perubahan klasifikasi pasar benar-benar terjadi.
Di tengah tekanan tersebut, BRI Danareksa Sekurtias mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perbankan, tetapi memilih PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) sebagai saham unggulan atau top pick. BTPS dinilai lebih defensif dalam menghadapi ketidakpastian arus dana asing karena porsi kepemilikan asingnya hanya 15 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank besar.