"Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen merupakan langkah antisipatif untuk menahan pelemahan rupiah di tengah kenaikan inflasi pangan dan energi. Meski ruang pelonggaran moneter kian terbatas, ketahanan cadangan devisa kita yang berada di kisaran USD146,5 miliar masih menjadi benteng penahan depresiasi yang solid," kata Ibrahim.
Kombinasi antara tekanan fiskal domestik dan sentimen eksternal diperkirakan masih mendominasi pasar valuta asing dalam jangka pendek. Pelaku pasar diproyeksikan tetap mencermati pergerakan indeks dolar AS menjelang rilis indikator ekonomi penting dari Negeri Paman Sam.
"Untuk perdagangan besok, pergerakan mata uang rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif namun berpeluang ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per USD. Pelaku pasar akan terus mencermati kelanjutan konflik Selat Hormuz dan arah kebijakan The Fed yang menjadi katalis utama pelemahan pasar keuangan negara berkembang," Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)