sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Tertekan 3,09 Persen Sepekan, Saham-Saham Ini Dinilai Punya Prospek Menarik

Market news editor Rohman Wibowo
27/09/2026 19:24 WIB
Tekanan jual yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga terkoreksi 3,09 persen sepanjang pekan ini dinilai masih menyisakan peluang.
IHSG Tertekan 3,09 Persen Sepekan, Saham-Saham Ini Dinilai Punya Prospek Menarik. Foto: iNews Media Group.
IHSG Tertekan 3,09 Persen Sepekan, Saham-Saham Ini Dinilai Punya Prospek Menarik. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Tekanan jual yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga terkoreksi 3,09 persen sepanjang pekan ini dinilai masih menyisakan peluang pada sejumlah saham pilihan. 

Di tengah pergerakan indeks yang masih berada di bawah rata-rata jangka pendek dan menengah, saham-saham komoditas dan energi diproyeksikan memiliki prospek menarik untuk dikoleksi secara terukur.

Tekanan jual yang melanda bursa saham domestik justru membuka celah akumulasi pada sejumlah emiten yang memiliki daya tahan teknikal dan dukungan sentimen sektoral. Pelaku pasar disarankan untuk tidak terburu-buru bersikap agresif, melainkan memanfaatkan pelemahan harga secara bertahap guna mengamankan titik masuk yang optimal.

"Untuk pilihan saham, saya melihat PTBA dapat menjadi salah satu saham yang dicermati dengan strategi speculative buy dan target harga Rp3.220, serta ADRO dengan target Rp2.860 saat terjadi pelemahan. Sementara SGER lebih cocok untuk strategi trading buy dengan target Rp800 karena karakter pergerakannya lebih tepat dimanfaatkan untuk momentum perdagangan jangka pendek," ujar Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, dalam analisisnya kepada IDXChannel, Minggu (27/9/2026).

Saat ini, menurut Hendra, posisi IHSG belum menunjukkan sinyal pembalikan tren (reversal) yang kokoh, sehingga pasar dipandang masih berada dalam fase konsolidasi bawah dan belum dapat dikategorikan memasuki tren penguatan (bullish) baru.

Peluang masuk pada saham-saham tersebut sejalan dengan posisi teknikal IHSG yang mulai mendekati area jenuh jual usai mengalami koreksi tajam. Meskipun tren pelemahan masih membayangi pergerakan pasar, batas bawah indeks saat ini menjadi tumpuan krusial dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

"Indikator stochastic mulai memasuki area oversold sehingga peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka. Area 6.220–6.230 menjadi support penting yang perlu dipertahankan. Jika bertahan, IHSG berpeluang rebound menuju 6.320 hingga 6.370–6.410, sebaliknya jika 6.220 ditembus, risiko koreksi lanjutan menuju 6.150–6.180 akan semakin terbuka," kata Hendra.

Tekanan terhadap bursa saham domestik diperberat oleh derasnya arus modal keluar. Dalam sepekan terakhir, investor asing mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp3,5 triliun, yang mengerek akumulasi penjualan bersih asing sejak awal tahun menembus angka Rp104,8 triliun. 

Aksi jual bersih pemodal asing yang masih deras keluar dari pasar domestik menjadi tantangan utama bagi pembalikan arah indeks secara berkelanjutan. Selain aliran dana global, stabilitas bursa saham nasional pada penutupan bulan ini juga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan eksternal.

"Memasuki pekan terakhir September, saya melihat IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways dan mencari keseimbangan baru setelah koreksi cukup dalam. Tekanan utama datang dari arus dana asing yang mencatatkan net sell sekitar Rp3,5 triliun sepekan dan Rp104,8 triliun sejak awal tahun, di samping sentimen rupiah, yield US Treasury, harga minyak dunia, kondisi geopolitik, serta ekspektasi kebijakan suku bunga global," kata Hendra.

Dinamika pasar modal pekan ini turut dipengaruhi oleh implementasi regulasi batas harga terendah saham baru sebesar Rp1 per saham yang mulai berlaku efektif pada 28 September. Kebijakan ini diperkirakan memicu lonjakan volatilitas pada saham-saham tidur yang selama ini tertahan di batas psikologis Rp50 per lembar, karena pemodal kini memiliki ruang untuk merealisasikan transaksi di bawah harga tersebut.

Pemberlakuan batas harga minimum baru ini pada dasarnya dirancang untuk memperbaiki mekanisme pembentukan harga wajar di bursa reguler. Namun, investor diingatkan untuk tidak terjebak ilusi nominal harga yang tampak murah tanpa menelaah kinerja fundamental perseroan.

"Mulai berlakunya kebijakan harga saham minimum Rp1 pada 28 September menurut saya tidak akan menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG secara keseluruhan, karena dampak terbesar justru terjadi pada saham yang selama ini tertahan di Rp50. Kebijakan ini dapat memperbaiki price discovery dan fleksibilitas perdagangan, tetapi investor harus hati-hati karena harga Rp1, Rp5, atau Rp10 tidak otomatis berarti murah secara valuasi," tutur Hendra.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement