IDXChannel - Pasar obligasi global menghadapi tekanan besar seiring kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah di Amerika Serikat (AS), Inggris, Eropa, dan Jepang ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Kondisi ini meningkatkan biaya pinjaman, memperbesar volatilitas pasar keuangan, dan menambah ketidakpastian bagi investor, meski belum mengarah pada krisis keuangan.
Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra menilai, tekanan di pasar obligasi global telah meningkatkan risiko sistemik, terutama bagi investor yang memegang obligasi berjangka panjang.
Namun, kondisi tersebut sejauh ini lebih mencerminkan persoalan risiko fiskal dan sensitivitas harga obligasi terhadap kenaikan suku bunga, ketimbang krisis kredit atau likuiditas.
Dalam riset tertanggal 12 Oktober 2026, Arief menjelaskan, aksi jual obligasi global dipicu sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Kenaikan harga energi kembali memicu tekanan inflasi, sementara sinyal bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan untuk meredam inflasi yang masih persisten.
Pada saat bersamaan, kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat ketika bank sentral mengurangi pembelian obligasi.
Kondisi ini membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menyerap tambahan pasokan surat utang.
Persaingan memperoleh pendanaan juga semakin ketat karena perusahaan-perusahaan di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menerbitkan obligasi untuk membiayai ekspansi.
Di Eropa, investor turut membedakan risiko antarnegara dengan lebih selektif, sehingga cenderung memilih penerbit yang dinilai lebih kuat dibandingkan Prancis dan negara-negara dengan kondisi fiskal yang lebih rentan.
Ketidakpastian mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter pun membuat pergerakan harga obligasi semakin bergejolak.
Meski demikian, Arief menilai pasar obligasi global belum menunjukkan tanda-tanda disfungsi yang lazim terjadi saat krisis keuangan.
Hal ini tercermin dari selisih imbal hasil obligasi korporasi berperingkat BBB di AS terhadap US Treasury yang masih berada di sekitar 100 basis poin.
Sementara itu, obligasi berimbal hasil tinggi atau high-yield junk bonds menawarkan premi sekitar 300 basis poin.
Menurut Arief, level tersebut menunjukkan kehati-hatian investor, tetapi belum mencerminkan tekanan ekstrem.
Krisis yang lebih serius biasanya ditandai oleh pelebaran selisih imbal hasil obligasi high-yield hingga di atas 500-600 basis poin, kegagalan lelang surat utang pemerintah, serta tekanan pendanaan yang meluas.
“Saat ini, persoalan utama di pasar obligasi lebih berkaitan dengan risiko durasi dan fiskal, bukan krisis kredit atau likuiditas,” tulis Arief.
Namun, risiko dapat meningkat apabila imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun bertahan di atas 5,25-5,50 persen.
Kenaikan tersebut berpotensi memperbesar biaya pinjaman dan meningkatkan risiko gagal bayar perusahaan.
Tekanan Obligasi Bayangi Saham Indonesia
Bagi pasar saham global, kenaikan imbal hasil obligasi menjadi hambatan karena meningkatkan tingkat pengembalian yang disyaratkan investor.
Dampak awalnya berpotensi berupa penurunan valuasi saham, sebelum berlanjut pada tekanan terhadap kinerja laba perusahaan apabila biaya pendanaan meningkat dan aktivitas ekonomi melemah.
Bagi Indonesia, Arief menyoroti risiko apabila imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bertahan di atas 5,5 persen.
Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal asing keluar, menekan nilai tukar rupiah, dan membatasi ruang Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan suku bunga.
Tekanan itu dapat merambat ke sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk perbankan dan properti.
Biaya pendanaan yang lebih tinggi dapat memengaruhi permintaan kredit, kemampuan pembayaran debitur, serta daya beli konsumen terhadap properti.
Sebaliknya, emiten batu bara, nikel, dan energi berpotensi menunjukkan ketahanan relatif lebih baik apabila harga komoditas tetap kuat.
Meski begitu, kenaikan biaya subsidi bahan bakar minyak (BBM) juga dapat membawa implikasi fiskal bagi pemerintah dan memengaruhi kondisi usaha sektor pertambangan.
Dalam kondisi pasar seperti ini, kata Arief, investor disarankan lebih selektif dengan memprioritaskan perusahaan yang memiliki neraca keuangan kuat, kemampuan mempertahankan harga jual alias pricing power, serta arus kas yang relatif stabil.
Likuiditas portofolio juga perlu dijaga agar investor memiliki ruang untuk menghadapi koreksi pasar.
Harga Emas Rentan Terkoreksi
Tekanan di pasar obligasi juga menjadi perhatian bagi investor emas. Arief menilai, harga emas yang berada di sekitar USD4.100 per troy ons memiliki ruang penyangga yang terbatas apabila imbal hasil obligasi terus meningkat.
Berbeda dengan obligasi, emas tidak memberikan kupon atau pendapatan bunga.
Karena itu, kenaikan imbal hasil riil obligasi membuat emas relatif kurang menarik dibandingkan instrumen yang menawarkan imbal hasil, termasuk obligasi yang melindungi investor dari inflasi.
Penguatan dolar AS turut menambah tekanan karena membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Di sisi lain, arus keluar dana dari produk investasi berbasis emas yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded funds (ETF), ditambah momentum harga yang melemah, dapat mendorong harga menembus level teknikal penting.
Arief memperkirakan harga emas berpotensi mengalami koreksi sekitar 10-15 persen dalam skenario dasar.
Meski demikian, koreksi tersebut diperkirakan tidak sampai memicu kejatuhan berkepanjangan karena pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi salah satu penopang permintaan.
Dengan prospek tersebut, investor disarankan tidak terburu-buru mengejar kenaikan harga emas.
Strategi yang lebih berhati-hati adalah melakukan pembelian secara bertahap ketika harga terkoreksi ke level yang menawarkan titik masuk lebih menarik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.