Krisis yang lebih serius biasanya ditandai oleh pelebaran selisih imbal hasil obligasi high-yield hingga di atas 500-600 basis poin, kegagalan lelang surat utang pemerintah, serta tekanan pendanaan yang meluas.
“Saat ini, persoalan utama di pasar obligasi lebih berkaitan dengan risiko durasi dan fiskal, bukan krisis kredit atau likuiditas,” tulis Arief.
Namun, risiko dapat meningkat apabila imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun bertahan di atas 5,25-5,50 persen.
Kenaikan tersebut berpotensi memperbesar biaya pinjaman dan meningkatkan risiko gagal bayar perusahaan.
Tekanan Obligasi Bayangi Saham Indonesia
Bagi pasar saham global, kenaikan imbal hasil obligasi menjadi hambatan karena meningkatkan tingkat pengembalian yang disyaratkan investor.