Berbeda dengan obligasi, emas tidak memberikan kupon atau pendapatan bunga.
Karena itu, kenaikan imbal hasil riil obligasi membuat emas relatif kurang menarik dibandingkan instrumen yang menawarkan imbal hasil, termasuk obligasi yang melindungi investor dari inflasi.
Penguatan dolar AS turut menambah tekanan karena membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Di sisi lain, arus keluar dana dari produk investasi berbasis emas yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded funds (ETF), ditambah momentum harga yang melemah, dapat mendorong harga menembus level teknikal penting.
Arief memperkirakan harga emas berpotensi mengalami koreksi sekitar 10-15 persen dalam skenario dasar.
Meski demikian, koreksi tersebut diperkirakan tidak sampai memicu kejatuhan berkepanjangan karena pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi salah satu penopang permintaan.