Eskalasi harga minyak mentah tersebut memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut.
Alhasil, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun melesat ke posisi 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007, yang memicu arus modal keluar (outflow) dari portofolio negara berkembang (emerging markets).
Di sisi domestik, Erwin menuturkan, pengetatan likuiditas valas diperberat oleh tingginya aksi korporasi importir.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," katanya.
Merespons tembusnya level Rp18 ribu per USD tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus mengawal stabilitas pasar valas melalui intervensi di tiga pasar sekaligus (triple intervention).