IDXChannel - PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) menghadapi perubahan komposisi mesin laba pada 2026. Jika emas sebelumnya menjadi penopang utama kinerja, penguatan bisnis nikel kini mulai mengambil peran lebih besar ketika margin perdagangan emas tertekan.
Analis Nomura Ahmad Maghfur Usman memperkirakan margin emas ANTM dapat kembali membaik pada semester II-2026.
Pemulihan tersebut, ditambah momentum bijih nikel yang masih kuat, diperkirakan menopang pertumbuhan laba perseroan pada paruh kedua tahun ini.
Pandangan tersebut muncul setelah margin kotor ANTM menyusut menjadi 15,7 persen pada kuartal II-2026 dari 19,2 persen pada kuartal sebelumnya. Penurunan terutama dipicu margin perdagangan emas domestik yang mengetat sehingga laba dari bisnis logam mulia terpangkas sekitar separuh.
Meski demikian, Nomura menilai panduan operasional ANTM untuk 2026 masih secara umum sejalan dengan ekspektasi.
Nomura mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham ANTM, tetapi memangkas target harga menjadi Rp5.300 dari sebelumnya Rp6.100, dengan mempertimbangkan tekanan margin perdagangan emas domestik serta beban keuangan yang lebih tinggi pada semester I-2026.
Di sisi lain, Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dalam riset 10 September 2026 melihat nikel semakin menjadi penopang penting kinerja ANTM.
ANTM membukukan laba bersih Rp3 triliun pada kuartal II-2026, turun 12 persen secara kuartalan tetapi masih tumbuh 16 persen secara tahunan. Dengan demikian, laba bersih semester I-2026 mencapai sekitar Rp6,4 triliun.
Pendapatan pada periode yang sama mencapai Rp33,4 triliun, naik 14 persen secara kuartalan dan 2 persen secara tahunan.
Namun, margin EBIT turun menjadi 11,8 persen dari 15,4 persen pada kuartal I-2026, meski masih lebih tinggi dibandingkan 10,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba secara kuartalan terutama berasal dari melemahnya profitabilitas bisnis logam mulia akibat penurunan harga jual rata-rata emas. Tekanan tersebut sebagian besar tertahan oleh membaiknya kinerja nikel.
Segmen nikel mencatat peningkatan operasional paling kuat pada kuartal II-2026.
Volume penjualan feronikel melonjak 71 persen secara kuartalan menjadi 4,8 ribu ton nikel, sementara harga jual rata-rata bijih nikel naik 21 persen menjadi sekitar USD80 per wet metric ton (wmt).
Dengan volume penjualan bijih nikel yang relatif stabil di sekitar 3,4 juta wmt, EBITDA bisnis nikel meningkat 41 persen secara kuartalan menjadi Rp3,4 triliun.
Angka tersebut sudah melampaui EBITDA segmen logam mulia dan pemurnian yang turun 53 persen menjadi Rp1,2 triliun seiring penurunan harga jual rata-rata emas sebesar 8 persen menjadi USD4.746 per troy ounce.
Kinerja bisnis bauksit dan alumina juga membaik. EBITDA segmen tersebut berbalik positif menjadi Rp134 miliar, dari posisi rugi pada tahun sebelumnya.
Perubahan tersebut membuat komposisi laba ANTM semakin bergeser ke nikel.
Sucor mempertahankan proyeksi pendapatan ANTM sebesar Rp128,1 triliun pada 2026 dan Rp135,4 triliun pada 2027, dengan dukungan kuota bijih nikel yang lebih tinggi serta harga feronikel yang tetap kuat.
Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp10 triliun pada 2026, tumbuh 39 persen secara tahunan, kemudian menjadi Rp10,7 triliun pada 2027 atau meningkat 7 persen.
Sucor menilai capaian semester I-2026 yang sudah mencapai 64 persen dari proyeksi laba setahun penuh memberikan ruang bagi kinerja ANTM untuk melampaui perkiraan apabila harga nikel tetap kuat dan peningkatan produksi berjalan sesuai rencana.
Sucor pun mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp5.500. Target tersebut mencerminkan valuasi 11,7 kali price-to-earnings (P/E) 2026.
Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah pelemahan harga komoditas, lambatnya peningkatan volume produksi, serta perubahan kebijakan yang memengaruhi penjualan bijih nikel maupun operasional hilirisasi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.