IDXChannel – Ruang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai semakin bergantung pada kembalinya arus dana asing seiring memasuki kuartal IV-2026.
Pasalnya, amunisi investor domestik mulai menipis setelah porsi kas reksa dana atau fund lokal turun menjadi 6,2 persen pada Agustus 2026, di bawah rata-rata empat tahun sebesar 7,3 persen.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), Hadi Soegiarto, Wisnu Trihatmojo, dan Elizabeth Noviana, menilai kondisi tersebut membuat reli IHSG berikutnya membutuhkan dukungan investor asing.
Meski investor asing sempat mencatat pembelian bersih sekitar USD155 juta pada pekan pertama September 2026, momentum tersebut terhenti seiring kenaikan imbal hasil obligasi global dan tingginya harga minyak.
Dalam riset yang terbit pada 25 September 2026, CGSI memangkas target IHSG 2026 menjadi 6.500 dari proyeksi sebelumnya, dengan mempertimbangkan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar.
Target tersebut mencerminkan valuasi 8,7 kali price to earnings (P/E) FY2027, dengan pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 11,6 persen dan dividend yield 5,9 persen.
CGSI melihat kuartal IV-2026 akan diwarnai sejumlah faktor yang dapat menentukan arah pasar. Salah satunya adalah perkembangan pembekuan (freeze) indeks Indonesia oleh MSCI yang akan kembali diperbarui pada akhir Oktober 2026.
Dalam skenario dasar CGSI, MSCI diperkirakan mempertahankan status quo dengan memperpanjang pembekuan dan melakukan peninjauan setiap tiga bulan.
Namun, nada komunikasi MSCI akan menjadi perhatian pasar. Sinyal yang lebih positif berpotensi mengangkat pasar, sedangkan pernyataan yang lebih keras terkait risiko penurunan status dapat menekan IHSG.
Tekanan eksternal juga datang dari harga minyak dan kebijakan bank sentral global.
CGSI memperkirakan setiap kenaikan harga Brent sebesar 10 persen dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan fiskal Indonesia masing-masing sekitar 0,2 poin persentase.
Di sisi moneter, CGSI memperkirakan suku bunga Bank Indonesia alias BI-Rate berada di level 5,75 persen pada akhir 2026 dengan bias hawkish. Sementara itu, pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) mencapai 53 persen pada Oktober dan 77 persen pada Desember 2026.
Ruang stimulus fiskal juga dinilai terbatas. CGSI memperkirakan defisit fiskal 2026 mencapai 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB), mendekati batas 3 persen.
Pemerintah diperkirakan menjaga batas tersebut melalui efisiensi belanja, meski langkah ini berpotensi membawa konsekuensi terhadap pertumbuhan.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, CGSI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,3 persen.
Pertumbuhan belanja pemerintah diproyeksikan melambat dari 18 persen secara tahunan pada semester I-2026 menjadi 11 persen pada semester II-2026 dan 4 persen pada 2027.
CGSI juga mencatat posisi Indonesia di indeks MSCI Asia Pacific ex Japan turun dari 1,2 persen pada Desember 2025 menjadi 0,5 persen pada Agustus 2026.
“Kondisi ini membawa beberapa konsekuensi. Pertama, investor membutuhkan keyakinan yang lebih kuat untuk kembali masuk ke pasar dengan bobot dan likuiditas yang lebih rendah. Kedua, sebagian besar investor asing yang kami temui kini cenderung hanya ingin memiliki lebih sedikit saham di Indonesia dibandingkan sebelumnya, bahkan saat ini kurang dari lima saham,” tulis CGSI.
Meski demikian, CGSI menilai valuasi saham Indonesia masih murah. Jika faktor eksternal membaik, momentum pembelian asing yang tercatat pada awal September berpotensi kembali.
Untuk menghadapi kondisi pasar tersebut, CGSI memilih sejumlah saham utama, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Kemudian, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indosat Tbk (ISAT), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Timah Tbk (TINS), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
CGSI menilai BBCA memiliki pertumbuhan yang konsisten dengan pendekatan yang prudent, sementara BBRI berpotensi mendapat manfaat dari meredanya tekanan pada penyaluran kredit mikro dan kualitas aset.
ASII dinilai memiliki pangsa pasar otomotif yang stabil serta ruang untuk memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.
Di sektor komoditas, AADI dinilai menarik karena potensi dividend yield yang tinggi dan prospek harga batu bara. Sementara TINS dipandang berpotensi mendapat manfaat dari penertiban aktivitas tambang ilegal.
CGSI juga memasukkan ISAT sebagai pilihan karena eksposurnya terhadap pengembangan kecerdasan artifisial (AI) melalui kepemilikan 37 persen di Zankore yang berencana mengembangkan kapasitas 1 gigawatt AI neocloud di Asia Tenggara.
Kemudian, UNVR dipilih karena proses restrukturisasi dinilai telah selesai dan perusahaan berpotensi mencatat pertumbuhan yang lebih cepat dengan tingkat pembayaran dividen yang tinggi.
Sementara EXCL dinilai memiliki prospek yang ditopang kondisi harga di industri yang lebih mendukung.
Untuk sektor poultry, JPFA menjadi pilihan CGSI seiring kuatnya harga ayam pedaging, sedangkan retailer MAPA dinilai menarik dari sisi valuasi dan pertumbuhan.
WIIM juga dipilih karena prospek kebijakan cukai yang dinilai mendukung, dengan valuasi sekitar empat kali price-to earnings ratio alias P/E untuk tahun buku 2027, dividend yield 12 persen, dan free cash flow yield 21 persen.
CGSI tidak lagi memasukkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) dalam daftar pilihan utama untuk mengurangi eksposur terhadap saham-saham yang sensitif terhadap siklus ekonomi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.