Pertumbuhan belanja pemerintah diproyeksikan melambat dari 18 persen secara tahunan pada semester I-2026 menjadi 11 persen pada semester II-2026 dan 4 persen pada 2027.
CGSI juga mencatat posisi Indonesia di indeks MSCI Asia Pacific ex Japan turun dari 1,2 persen pada Desember 2025 menjadi 0,5 persen pada Agustus 2026.
“Kondisi ini membawa beberapa konsekuensi. Pertama, investor membutuhkan keyakinan yang lebih kuat untuk kembali masuk ke pasar dengan bobot dan likuiditas yang lebih rendah. Kedua, sebagian besar investor asing yang kami temui kini cenderung hanya ingin memiliki lebih sedikit saham di Indonesia dibandingkan sebelumnya, bahkan saat ini kurang dari lima saham,” tulis CGSI.
Meski demikian, CGSI menilai valuasi saham Indonesia masih murah. Jika faktor eksternal membaik, momentum pembelian asing yang tercatat pada awal September berpotensi kembali.
Untuk menghadapi kondisi pasar tersebut, CGSI memilih sejumlah saham utama, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).