Meski demikian, Indo Premier menilai potensi kenaikan estimasi laba dari revisi regulasi tersebut kemungkinan terbatas.
Pasalnya, perubahan formula HPM telah menjadi pembahasan selama beberapa bulan terakhir dan sebagian dampaknya dinilai sudah tercermin dalam ekspektasi pasar.
“Sederhananya, kami menilai konsensus sudah menggunakan asumsi harga jual rata-rata (ASP) sebagai dasar proyeksi royalti, bukan HPM sebesar USD40-USD45 per wmt,” tulis Ryan.
Di sisi lain, Indo Premier masih berhati-hati terhadap prospek sektor nikel. Sekuritas tersebut menilai peningkatan pasokan bijih nikel setelah persetujuan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada September 2026 dapat menekan harga nikel di London Metal Exchange (LME) serta profitabilitas penjual bijih pihak ketiga.
Kondisi tersebut berpotensi mengimbangi manfaat dari revisi HPM limonit.
Untuk sektor komoditas, Indo Premier tetap memilih secara selektif dengan preferensi pada batu bara termal serta tembaga dan emas.