“Kami terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kualitas data, dan memastikan akses informasi yang lebih baik bagi investor. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menindaklanjuti perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia,” tuturnya.
Dari sisi makroekonomi, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Inflasi September tercatat 3,28 persen, sedangkan cadangan devisa pada akhir September mencapai USD146,3 miliar.
BEI juga menyoroti ukuran pasar saham Indonesia yang mencapai USD497,96 miliar, lebih besar dibandingkan Nigeria sebesar USD106,27 miliar dan Argentina sebesar USD72,94 miliar yang saat ini berstatus Standalone Market.
Meski fundamental emiten dan sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan pertumbuhan, investor tetap perlu mencermati prospek bisnis, valuasi, serta risiko masing-masing saham. Kinerja laba yang positif tidak serta-merta menjamin harga saham akan meningkat, terutama ketika pasar menghadapi ketidakpastian global dan perubahan sentimen investor.
(DESI ANGRIANI)