Nurkholis memperkirakan, apabila coverage dihitung terhadap seluruh limit fasilitas Rp40 triliun dan saham yang dijaminkan hanya diakui sebesar 50 persen dari nilai pasarnya, maka setidaknya sekitar Rp33 triliun harus berasal dari agunan non-saham.
Dengan struktur tersebut, penurunan kembali harga saham JARR dan PGUN hingga di bawah level terendah 19 Oktober 2026, sekitar 17 persen di bawah harga saat ini, berpotensi memicu permintaan penambahan agunan.
Namun, dampak awalnya kemungkinan lebih banyak terasa pada kemampuan Jhonlin untuk menarik sisa fasilitas, bukan langsung dalam bentuk penjualan paksa saham.
"Risiko likuidasi berkurang, tetapi risiko konsentrasi meningkat," tulis Nurkholis.
Menurutnya, pengungkapan terbaru BMRI secara umum memperkuat pandangan sebelumnya bahwa transaksi tersebut tidak sedemikian berisiko terhadap bank seperti yang tersirat dari pemberitaan mengenai gadai saham.